Jumat, 31 Agustus 2012

Dio


Terik matahari di siang hari membuatku harus memakai Sun Block, yaa apalagi ini di pantai. “Distaaaaaa, surfing yuk!” Teriak Sasta dari kejauhan, Sasta adalah adiknya Dio, pacarku. Aku sangat dekat dengannya, apalagi kami seumuran kami juga satu kelas dan satu bangku lho. “Iya Sas, bentar gue lagi make sunblock.” Jawabku dengan teriakan yang sama besarnya dengan Sasta tadi. Aku segera berjalan menujunya sambil membawa papan surfing ku. “Mana ombaknyaaaaa? Gimana mau surfing kalo nggak ada ombak!” Kataku pada Sasta yang hanya duduk di tepi pantai. “Hehe, ya maap. Hilap gue, iya deeh elo kan surfer handal, gue kan masih baru belajar sama elo.” Jawab Sasta dengan cengiran kudanya. “Yaudah, kita balik ke masa kecil ajadeh, sambil nunggu ombak kita main istana pasir yuk Sas.” Kataku lagi. “eh engga usah deh kayanya, ombaknya udah mulai gede.” Ujar Sasta sambil menunjuk ombak. “Oh iya Sas, yaudah kita surfing sekarang!” Aku dan Sasta berselancar di ombak yang besar, walaupun Sasta masih baru belajar, namun dia sudah terlihat mahir berselancar di atas ombak. Dari kejauhan terlihat Dio sedang berlari ke arah kami, dengan kamera digital yang tergantung di lehernya. “Dista, Sasta balik yuk!” Aku dan Sasta kembali ke tepi pantai. “Kok cepet amat sih kak!” ujar Sasta kepada Dio. “Iya Yo, kok cepet amat!” ujarku lagi. “Aldi tadi nelfon aku, katanya kamu harus cepetan pulang, katanya hari ini Bunda kamu pulang. “Apaaa?? Bunda pulang? yeeees” Kataku dan tanpa kusadari aku menjatuhkan papan surfing ku ke kaki Dio. “Aduuuuh, jempol gue!” Dio memegangi jempol kakinya yang tertimpa papan surfingku. “Yaampuun aduh Diooo, maaf yaaa hahaha!” Aku meminta maaf sambil tertawa, begitu juga Sasta yang melihat kakaknya melompat-lompat nggak jelas sambil memegangi jempol kaki. “Hahahaha, yaudah Dis, kita ganti baju, Kak Dio cepet sembuh yaaaa hahaha” ejek Sasta sambil menarik lenganku. “Dio sayang, maaf ya. Oh iyaa aku nitip papan surfing aku yaaa dadadaaaa” Aku dan Sasta berlari meninggalkan Dio sendirian.
***********
Di rumah, Bunda dan Aldi sedang ngobrol di ruang tamu. “Hai bun!” Aku menyapa bunda, dan mencium tangannya. Bunda membelai kepalaku. “Apa kabar Dis?” Tanya bunda padaku. “Baik bun, Ayah mana? Kok nggak keliatan?” Tanyaku lagi. “Ayah nggak bisa kemari sayang, bunda aja sebentar lagi harus balik ke Pontianak.” Jawab Bunda langsung membuat wajahku berubah, sudah 2 bulan aku nggak ketemu Bunda, tapi waktu ketemu kenapa Bunda harus pulang secepat ini. Apa Bunda memang nggak rindu padaku? Apa bunda nggak sayang padaku dan Aldi?. Ya, aku dan Aldi memang tinggal terpisah dengan Bunda, soalnya pusat perusahaan mereka ada di Pontianak. “Bunda nggak kangen sama Dista ya?” Tanyaku dengan kepala yang tertunduk. “Bukan gitu sayang, kamu tau sendiri kan Bunda itu sibuk, kamu juga harus ngerti Bunda” Itulah jawaban Bunda tiap kali aku marah kalau ia ingin pulang ke Pontianak. “Bun, sibuk itu bukan alasan! Apa emang lebih penting perusahaan Bunda daripada anak-anak Bunda! Udalahlah aku capek, aku mau istirahat! jangan ada yang ganggu aku! Terserah kalo bunda mau pulang!” Aku berjalan menuju kamarku, Bunda memanggilku agar aku kembali, aku nggak perduli, toh Bunda juga nggak perduli denganku. Pintu kamar ku banting sangat keras dan segera menguncinya. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur, aku memandangi sekeliling kamar, di meja sebelah tempat tidurku, terlihat foto Aku, Aldi, Ayah dan Bunda. Aku mengambil foto itu lalu mencampakkannya ke lantai. Selama setengah jam lebih aku berbaring di tempat tidur dan tak ada yang menggangu, tapi  baru saja aku ingin memejamkan mata, pintu kamarku diketuk. “Dis, Bunda mau balik ke Pontianak, elo nggak mau ikut nganterin Bunda ke bandara?” sudah kuduga pasti yang mengetuk pintu kamarku tadi adalah Aldi. “Gue udah bilang kan!jangan ada yang ganggu gue! Gue capek! Gue marah sama Bunda! Sekali lagi elo ngomong atau ngetok pintu kamar gue, gue jamin hidup lo bakalan TAMAT! SEKARANG MENJAUH DARI PINTU KAMAR GUE!” Aku meneriaki Aldi sekuat tenaga, sengaja biar Bunda bisa mendengarnya juga. “Dista elo anak durhaka ya” Sahut Aldi lagi PRANG! Kulempar bingkai foto yang tergeletak di lantai ke pintu kamar, terdengar suara langkah kaki Aldi yang berlari menjauhi pintu kamarku. “Dista saraaaap!” Aldi berteriak dari luar kamar. Aku melompat dari tempat tidurku dan secepat kilat kubuka pintu kamar, Aldi sedang berdiri di sudut tangga, ia terlihat seperti keledai dungu yang mencari perlindungan dari serigala yang kelaparan. “Eh Dis, elo kalo ngambek sama Bunda, ya sama Bunda aja, jangan gue yang dibawa bawa, sarap lo ya” Setelah mendengar ucapan Aldi, aku memungut bingkai foto itu lalu melemparkannya ke arah Aldi, “Udah gue bilang, JANGAN GANGGU GUE!” Ucapanku yang diiringi bunyi pecahan kaca membuat Aldi ngacir ketakutan. “DISTA ELO MAU BUNUH GUE!” Aldi meneriakiku lagi, aku kembali ke kamar, kali ini aku tidak membanting pintu. Aku hanya menguncinya, terdengar suara Bunda yang memanggilku. “Dista, Bunda pulang ya, bunda minta maaf karna nggak bisa nemenin kamu lama-lama.” Kata-kata Bunda membuat hatiku semakin panas, aku pun merebahkan diri lagi ke tempat tidur dan menutup kupingku dengan bantal. Bunda dan Aldi pun akhirnya berangkat ke bandara.
*************
Pukul 05.00 Jam waker ku berbunyi, aku terduduk di tempat tidurku, setelah benar-benar terbangun aku berjalan gontai menuju kamar mandi, yaa 30 menit aku mempersiapkan diri untuk ke sekolah, aku pun turun ke ruang makan untuk sarapan, Bi Siti menuangkan air putih untukku. “Aldi mana Bi?” tanyaku heran, biasanya dia yang paling cepet selesai, “Oh, den Aldi masih dikamar mandi non!” Jawab bi Siti dengan logat jawanya yang masih kental. “oh” balasku singkat. Aku mulai meneguk air putihku yang baru saja dituangkan bi Siti, tak lama Aldi pun muncul, “Pagi, Dis.” Sapa Aldi padaku. “hm” jawabku singkat, lalu meneruskan sarapanku. “Dis, pak Yanto pulang kampung,ibunya lagi sakit, jadi nggak bisa nganterin elo hari ini, jadi elo gue yang nganter.” Kata Aldi lagi. “Yaudah, gue berangkat sekarang, udah jam enam lewat, entar gue terlambat!” balasku lagi. Aldi pun segera bangkit dan meraih kunci mobil. “Yaudah, ayo!” ajak Aldi.
Di jalan, Aldi terus menerus mengoceh, tapi aku hanya menaggapinya dengan kata oh, hm dan iya atau enggak, sampai aku tiba di sekolah. “Pulang sekolah nanti elo gue jemput” Kata Aldi sebelum aku turun. “Terserah” Jawabku lalu membanting pintu mobil.
***************
Hari ini Sasta tidak datang kesekolah, begitu juga dengan Dio. Dasar kakak adik yang kompak! Aku masih duduk di pos satpam sekolah, menunggu jemputan yang sudah 1 jam lebih kutunggu tapi tak muncul juga, segera ku ambil Hpku dan menelepon Aldi. “Halo?” Sapa orang di seberang sana. “Eh supir pengganti!katanya elo mau jemput gue, mana? Udah satu jam lebih gue nunggu, tapi elo nggak dateng dateng! Niat jemput nggak sih!” Jawabku dengan kata-kata yang super pedas. “Iyaa, ini gue, lagi dijalan 5 menit lagi gue nyampe” balas Aldi lalu langsung mematikan teleponnya. “Sialan, gue yang nelfon kok malah dia yang matiin”. “Non Dista lagi nunggu siapa?tumben jam segini belum pulang?” kata pak Amin padaku, pak Amin adalah satpam sekolah, aku sangat dekat dengan pak Amin karena dia orangnya humoris. “Lagi nunggu jemputan pak, hari ini yang jemput Dista bukan pak Yanto, tapi kakaknya Dista” Aku menjawab pertanyaan pak Amin dengan nada sopan. “oh” balas pak Amin singkat. “Nah, itu dia jemputannya, yaudah Dista pulang dulu ya pak!” Aldi pun sampai, aku segera berpamitan pada pak Amin. “Iya non” jawabnya lagi.
Sesampainya dirumah, aku langsung masuk ke kamar ku. Aku terkejut, Sasta ada di dalam kamarku! “Sasta, elo kok disini? Tadi elo kenapa nggak dateng?” Tanyaku heran pada Sasta. “Dis, besok gue bakalan pindah ke Finlandia dan itu artinya gue juga bakalan pisah sama elo Dis!” Sasta berbicara sambil terisak. “Sas, ke.. kenapa harus mendadak kaya gini? Gue nggak mau elo pergi Sas! Gue nggak mau sendirian di sekolah, gue nggak mau jalan sendirian, gue nggak mau Sas gue nggak mau! Elo satu-satunya temen yang paling gue percaya tapi kenapa elo mau ninggalin gue!” Aku juga ikut terisak, aku sangat sedih, Sasta satu-satunya sahabatku harus pergi meninggalkanku. Aku nggak bisa menerimanya. “Mama sama Papa cerai Dis, gue disuruh milih buat ikut salah satu dari mereka, gue milih buat ikut sama Papa tinggal di Finlandia, Mama sama Dio tetep stay disini.” Katanya sembari menghapus air mata yang terus mengalir. “Terus kenapa elo nggak milih buat tinggal disini Sas!” balasku semakin terisak. “Elo tau sendiri kan Dis, gue sama Mama nggak pernah akur, gue nggak bakalan tahan kalo harus tinggal berdua sama mama.” Balas Sasta tanpa berhenti menangis. “Oke, gue ngerti Sas, gue harap elo nggak bakalan ngelupain gue” Sasta dan aku berpelukan. “gue janji gue nggak akan ngelupain elo Dis!” Kata Sasta lalu melepas pelukannya.
                                        ***********
Hari ini Sasta berangkat ke Finlandia, aku izin sekolah hari ini khusus untuk mengantar Sasta ke bandara. “Dis, gue pergi sekarang ya” Kata Sasta padaku, kulihat matanya berkaca-kaca. “Jaga diri lo baik-baik ya Sas, pokoknya elo harus sering-sering ngirim email sama nelfon gue tiap hari! Janji!” Aku berkata sambil mengajukan jari kelingking ku pada Sasta. “Janji” jawab Sasta lalu mengaitkan jari kelingking kami. “Yaudah, pergi sana huus” ujarku lagi. “kak Dio, jagain Dista ya!” Pesan Sasta untuk Dio. “Iya, pasti kakak jagain deh, kamu baik-baik disana ya Sas” kata Dio sambil mengacak acak rambut adiknya. “Yo, Papa berangkat ya”Ujar laki-laki yang usianya sekitar 45 tahun itu pada Dio, ia memeluk Dio hangat lalu melepaskannya. “Yaudah gue berangkat sekarang ya, Ayo Pa. Daa semua” ujar Sasta menarik tangan Papanya dan melambaikan tangannya, dia pun berjalan menjauhi kami semua.
*****************
1 bulan sudah Sasta pergi, Aku masih tetap sering menyendiri, aku nggak pandai bergaul, makanya temanku di sekolah sangat sedikit, bahkan bangku Sasta pun masih kosong sampai saat ini, semenjak Sasta pergi aku juga jarang keluar rumah, tapi Sasta tak pernah melupakanku, dia selalu menelponku, mengirim email, seperti janjinya. Sangat berbeda dengan Dio, setelah Sasta pergi, dia tak pernah masuk sekolah, aku merasa bagaikan Dio juga ikut pergi bersama Sasta dan Papanya. Aku sering mendatangi rumah mereka, tapi selalu kosong seperti tak berpenghuni, setiap hari aku terus mencoba menghubungi Dio tapi sama saja, Hpnya tak pernah aktif. Aku tanya pada Sasta, ia juga tak bisa menghubungi Dio atau Mamanya, telepon rumah pun tak ada yang mengangkat. Dio tak menepati janjinya pada Sasta untuk menjagaku, dia menghilang begitu saja.
***************
Hari ini tak ada yang mengantar dan menjemputku ke sekolah, Pak Yanto pulang ke kampung karena ibunya meninggal, Aldi juga sedang sibuk ujian di kampusnya, terpaksa aku pulang sekolah dengan bis, baru saja setengah perjalanan aku berjalan menuju halte, turun setetes air dari langit, aku memandang langit yang mendung dan berwarna kelabu. Hujan deras membasahi jalan, aku berlari mencari tempat untuk berteduh, sial! Bahkan pohon aja nggak ada!gimana mau berteduh! Ujarku dalam hati. Aku memilih untuk terus berlari menuju halte terdekat, setelah 3 menit berlari di dalam derasnya hujan, aku pun sampai di halte. Ku keluarkan handuk kecil yang selalu kubawa di tas untuk mengelap tubuhku yang basah kuyup. Tiba-tiba dari Hpku mengalun lagu Jar Of Hearts nya Christina Perri yang menandakan telepon masuk. “Aldi? Buat apa dia nelfon gue?” Ujarku, aku mengangkat telepon dari Aldi. “Halo? Apa Di?” Kataku sambil mengelap tubuhku yang masih basah. “Dis, elo dimana? Gue jemput ya!” jawab Aldi yang membuatku segera berhenti mengelap tubuhku. “Ya ampun Aldi, elo baik banget deh, tapi elo lagi ujian?” balasku lagi. “udah deh ya, nggak usah bawel, sekarang elo dimana?” Tanya Aldi nadanya mulai meninggi. “Iya-iya, gue lagi di halte deket sekolah” jawabku padanya. “Yaudah, elo tunggu disitu ya, jangan kemana mana” Kata Aldi, telepon terputus. Setengah jam lamanya aku menunggu Aldi, akhirnya dia muncul juga, Aldi keluar dari mobil, dan menghampiriku dengan payungnya. “Cepetan masuk.” Aku dan Aldi berlari kecil menuju mobil.
Di jalan, Aldi dan aku hanya diam, nggak biasanya Aldi kaya gini! Aku berbicara dalam hati, Hari ini Aldi memang aneh biasanya dia berisik kaya bebek yang kehilangan anaknya. Dan lihat apa yang dia lakukan! Kami salah jalan, seharusnya kami belok ke kanan, tapi Aldi malah berbelok ke kiri. “Aldi, lo sadar nggak sih! Kita itu harusnya belok ke kanan, elo kok malah belok ke kiri sih!” Kataku dengan nada tinggi, habisnya dia keterlaluan, udah tau bajuku basah semua tapi bisa bisanya dia salah jalan. “Kita emang sengaja enggak langsung pulang!” Jawab Aldi dengan nada santai, kali ini aku benar-benar emosi, Aldi keterlaluan. “Aldi, elo keterlaluan banget sih, elo liat  baju gue basah kan? Elo anterin gue pulang dulu kek, baru elo boleh kelayapan kemanapun elo mau!” mendengar ucapanku Aldi memberhentikan mobilnya. “Heh, sekali-sekali elo jangan mikirin diri sendiri, ini demi elo juga Dis! jadi mendingan elo duduk diem! Entar lagi lo bakalan tau kita mau kemana!” Jawaban Aldi membuatku terdiam, Aldi nggak pernah sekalipun membentakku seperti itu. Suasana kembali diam, tak lama kemudian Aldi membelokkan mobilnya ke rumah sakit. Aldi memarkirkan mobilnya. “Ayo turun sekarang!” kata Aldi dengan wajah seriusnya.”Aldi, siapa yang sakit?” Tanyaku heran. “Udah elo turun aja, nanti elo bakal tau sendiri, cepetan keluar” Jawab Aldi lalu menarik tanganku. Kami memasuki lorong-lorong di rumah sakit dan akhirnya kami berada di depan salah satu kamar VIP di rumah sakit itu. “Masuk sana!” Aldi menyuruhku masuk. “Di, yang bener aja masa gue sendirian masuk buat nge-jenguk orang dan bahkan gue nggak tau orang itu siapa, sebenernya ini ada apa sih?”Aku mulai mengeluarkan pertanyaan yang ada dikepalaku. “Elo mau tau kan? Yaudah, masuk sekarang!” Perintah Aldi lagi, tapi kali ini aku menurutinya Aku masuk ke kamar itu. “Iya, gue masuk”. Aku melihat di sudut kamar itu ada seseorang yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan alat bantu pernafasan di hidungnya dan detektor jantung yang berada disebelah tempat tidur, tadinya aku tak berani mendekat, tapi rasa penasaran yang sangat besar membuatku memberanikan diri untuk mendekat ke tempat tidurnya, sekilas wajahnya seperti ku kenal, setelah memperhatikannya lebih jelas, air mataku mengalir deras, ternyata orang itu Dio, aku terduduk dilantai, semua pertanyaan yang berputar dikepalaku terjawab sudah, tangisku pecah Aldi pun masuk ke kamar dimana Dio dirawat. “Dista? Hei? Dis? Aduuuh, diem dong!” Aldi terlihat bingung melihatku menangis histeris. “Aldi, Dio kenapa Di? Dio sakit apa?” aku berkata disela-sela tangisanku. “Kata mamanya Dio, Dio punya penyakit kelainan jantung dari dia lahir, 1 bulan ini dia nggak sekolah karna kondisinya nge-drop” Jawaban Aldi membuatku gemetar, Aku tak percaya dengan apa yang ada di depan mataku sekarang, Dio yang selama ini jadi kapten basket sekolah, Dio yang selama ini selalu kuat dan terlihat tenang, Dio yang selalu melindungiku dari labrakan segerombol cewek yang suka padanya, tapi sekarang Dio hanyalah seseorang yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur akibat penyakit kelainan jantungnya. Aku merasa ada yang menyentuh bahuku dari belakang, tangannya sangat lembut, aku segera menghapus air mataku dan berbalik untuk melihatnya, perempuan yang kira-kira seumuran Bunda tersenyum melihatku, “Kamu Namira Aldista Rahardian kan? Dipanggil Dista?” Kata perempuan yang ternyata Mamanya Dio dan Sasta, dia menyebutkan nama panjangku. “I.. iya tante” Jawabku sedikit canggung. “Tante mamanya Dio sama Sasta, panggil aja tante Risa. kita cerita di luar aja yuk!” ujarnya lagi dengan senyuman lembut yang tak pudar dari wajahnya, “Aldi, tante boleh minta tolong lagi kan? Tolong jagain Dio sebentar ya!”. “Iya tante, pasti” jawab Aldi singkat. Aku dan tante Risa pun duduk di ruang tunggu, dia pun mulai bercerita tentang penyakit Dio. Ingatannya menerawang jauh ke 18 tahun yang lalu aku melihat matanya mulai berkaca-kaca. “Tanggal 1 April 1994 Dio lahir, tante bener bener seneng anak pertama tante laki-laki, tapi dokter bilang, Dio punya kelainan jantung dan diperkirakan umurnya cuma akan bertahan sampe dia 18 tahun” mendengar ucapan tante Risa, air mataku tak dapat di bendung lagi, umur Dio sekarang 18 tahun, waktu dio nggak lama lagi. “Dokter juga bilang kalo, kalo....” tante Risa juga tak bisa menahan air matanya, “Maaf, tante nangis di depan kamu” ujarnya lagi, tante Risa mencoba berhenti menangis, namun air matanya tak bisa berhenti mengalir. “dokter memperkirakan jantung Dio cuma bisa bertahan 24 jam lagi...” Belum sempat tante Risa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Aldi berlari tergopoh-gopoh menuju tempat duduk kami. “Tanteeee, Distaaaa. Di.. Dio udah sadar” Kata-kata Aldi membuat kami berdua langsung bangkit dari tempat duduk, dan berlari menuju kamar Dio. Dia menatapku pandangannya teduh “Dii..Dis..ta” Sapa Dio padaku dengan terbata-bata, aku segera berdiri tepat di samping tempat tidurnya, “Iya, kenapa Yo?” Jawabku dengan air mata yang terus mengalir. “Ja... jang..ngan na..ngis, aa...aku nggak papa!” Dio mengangkat tangannya dan menghapus air mataku. “aa... aku nggak suka.. li..liat ka..mu na..ngis.” kata Dio sambil terus menghapus air mataku, Bahkan disaat tak berdaya pun Dio tetap mampu membuatku berhenti menangis “I..iya aku nggak akan nangis lagi, asal kamu sembuh!” Jawabku pada Dio, “A..aku bakalan..be..berusaha sembuh buat kaa...kaamuu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku berhenti mengeluarkan air mata, batinku sudah dikuatkan Dio lagi, aku yakin, Dio akan sembuh.

           Pukul 20.00 aku sedang menjaga Dio, sedangkan tante Risa sedang beistirahat di sofa kamar itu, Aldi pun datang membawakan baju ganti untukku. “Dis, elo ganti baju dulu, biar gue yang jagain Dio” Kata Aldi sambil menyodorkan baju ganti kepadaku. “Thanks Di” Jawabku singkat, lalu berjalan menuju kamar mandi, di kamar mandi aku seperti mendengar Aldi berbicara dengan seseorang, saat keluar dari kamar mandi, aku kembali tersenyum, Dio sudah terbangun dari istirahatnya. “Haa.. hai Dis” Sapanya lagi padaku “Hai, Yo” balasku sambil tersenyum padanya. “Dio, aku ke mobil bentar ya, mau naro baju kotor dulu, Aldi jagain Dio dulu ya!” Sambungku sambil, meraih kunci mobil dari tangan Aldi.
Baru saja aku ingin kembali ke kamar Dio, ada yang menepuk bahuku dari belakang, aku berbalik melihatnya. “Sasta!” Sasta segera memelukku, “Dis, gue kangen banget sama elo!” ujar Sasta memelukku erat, Hpku berbunyi tanda telepon masuk, aku melihat layar Hpku, ternyata Aldi yang menelpon, segera kuangkat telpon dari Aldi. “Halo kenapa Di?” kataku pada Aldi “Dis, cepetan balik, Dio kambuh lagi” ujar aldi. “Iya , gue kesana sekarang” aku mematikan telepon dan menarik tangan Sasta untuk segera ke kamar Dio. “Sas, cepetan, kita harus ke kamar Dio sekarang, jantungnya kumat lagi!”.”Iya iya, ayo” kami berdua berlari menuju kamar Dio, kami segera barlari menuju lift, kamar Dio terletak di lantai 4. Sesampainya di kamar Dio kami mendapati Aldi yang sudah terduduk di sofa dan tante Risa yang duduk di samping tempat tidur Dio, “Gimana keadaan kak Dio Ma?” Kata Sasta pada tante Risa. Tante Risa berbalik dan memeluk Sasta, “Sasta! Akhirnya kamu dateng juga. Mama nggak tau lagi harus gimana, kakak kamu kondisinya terus nge-drop!” jawab tante Risa tanpa melepas pelukannya dari Sasta. “Kak Dio pasti kuat ma, Sasta yakin!” jawab Sasta sambil menyeka air matanya.

                                       ************
Pukul 02.00 dini hari, Dio sadar kembali, dia berbincang dengan Sasta, bicara Dio juga sudah tidak terbata-bata lagi. “Sas, maafin kak Dio ya, selama kamu pergi, kak Dio nggak pernah ngejagain Dista”  kata Dio pada Sasta. “Nggak papa kak! Si Distanya juga baik baik aja kok! Iya kan Dis!” Sasta menyenggol lenganku. “Iya Yo, aku baik-baik aja kok.” Jawabku dan tersenyum pada Dio. “Eh, udah ya aku ngantuk, mau tidur dulu huaaah” kata Dio sambil menguap. “Yaudah tidur sana” Kata Sasta pada kakak sematawayangnya. Pada saat Dio memejamkan mata, saat itu juga detektor jantungnya menunjukkan garis lurus tanda bahwa jantung Dio berhenti. Aku berlari memanggil dokter. “Dokter, tolongin Dio, jantungnya berhenti!”. “Suster cepat siapkan alat alat” kata dokter itu pada suster.  “Baik dok”.  Mereka memasuki kamar Dio, suster segera mempersilakan kami untuk keluar. Aku, dan yang lain, terus berdiri di depan pintu hingga dokter keluar dari kamar Dio, kami mengerubungi dokter itu dan menanyakan keadaan Dio. “Gimana keadaan anak saya Dok!” Kata tante Risa, dokter itu menghela nafas dan melepas kacamatanya. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin bu, tapi tuhan berkehendak lain, Dio tidak bisa kami selamatkan.” Jawaban sang dokter membuatku berlari ke arah tempat tidur Dio. “Dio, bangun! Diooo jangan tinggalin aku! Dioooo! Siapa yang bakalan jagain aku kalo kamu nggak ada, bangun Dio! Kamu udah janji bakalan sembuh buat aku!” Aku terus mengguncangkan tubuh Dio, berharap ia akan bernefas lagi, Sasta dan tante Risa hanya menangis dan diam terpaku melihat aku mengguncangkan tubuh Dio, satu persatu alat yang menempel ditubuhnya dicabut oleh 2 orang perawat. Aku terduduk di lantai, menangis dan memanggil nama Dio.
                                       **********
Pemakaman Dio.
Semua pelayat sudah berpulangan, Sasta pun mengajakku pulang. “Dis, pulang yuk, semuanya udah pulang” kata Sasta menepuk bahuku. “Yaudah, ayo!” Jawabku sambil menggandeng tangan Sasta, menuju mobil. “Oh iya, Dis, kata mama kak Dio nitipin ini buat elo.” Sasta menyodorkan amplop berwarna biru padaku, aku segera membukanya, namun dicegah Sasta,   jangan sekarang, kata kak Dio bukanya pas elo udah nyampe dirumah, “Oh” jawabku kembali menutup amplop itu. Aku menaiki mobil Sasta. “Oh iya, nih buat lo juga, ini kado ulangtahun buat elo, 1 minngu lagi elo ulangtahun kan? Dia udah nyiapin kado ini, dari sebelum gue pergi ke Finlandia” Sasta menyodorkan kotak berwarna coklat padaku, aku rasa Dio memang sengaja memilih warna coklat,karena warna coklat itu warna kesukaanku, tadinya aku ingin membukanya, tapi kuurungkan niatku itu. Aku takut menangis di depan Sasta. “Dis, gue boleh minta tolong satu hal sama elo nggak?” ujar Sasta lagi. “Apa Sas” Jawabku memandangi wajah Sasta. “Elo nginep dirumah gue hari ini ya.”  Aku rasa ide yang bagus untuk menginap dirumah Sasta malam ini, aku jadi bisa bercerita banyak padanya.
                                       **************
           Senja pun tiba, matahari dengan perlahan mulai tenggelam, cahaya jingga masuk dari jendela kamar Sasta, aku teringat akan surat dan kado yang tadi diberikan Sasta. Aku meraih surat dan kotak itu dari atas meja belajar Sasta. “Sas, ini surat yang tadi elo kasi ke gue kan?” Tanyaku agar tak salah mengambil surat. “Iya Dis, mau dibaca sekarang?” Sasta berbalik bertanya padaku. “Iya, gue udah penasaran sama isinya” jawabku sambil membuka perlahan surat itu. Aku pun mulai membacanya, tetesan air mataku kembali mengalir, membaca surat dari Dio,
Dear Dista,
Dista, aku minta maaf karna aku nggak akan pernah bisa lagi ada disamping kamu disaat kamu bener-bener ngebutuhin aku.
Aku minta maaf, karna aku nggak akan pernah bisa ngelindungin kamu lagi.
maaf karna aku selalu buat kamu nangis, maaf karna selama ini aku terlalu egois buat kamu.
Bahkan aku masih bisa ngebuat kamu nangis disaat aku udah nggak bisa apa-apa lagi, tapi aku nggak mau ngeliat kamu nangis lagi, aku mau kamu yang ceria, aku mau ngeliat Namira Aldista Rahardian selalu senyum kaya dulu.
Makasih karna kamu selalu ada buatku di 24 jam terakhir dalam hidupku.

- Dio Ardi Nuraga-

 Sasta mengelus punggungku “Udahlah Dis, kak Dio nggak bakalan suka ngeliat kita kaya gini terus, biarin kak Dio tenang. “Iya, gue nggak akan nangis lagi, gue akan terus berusaha ikhlasin Dio, gue janji gue nggak akan cengeng lagi.” Setelah membaca suratnya,aku membuka kado dari Dio aku terkejut melihatnya, boneka Barney Barns yang dari dulu aku ingin beli, Dio memberikannya untukku. “Dia sengaja beli ini buat lo, karna gue bilang elo pengen beli boneka Barney” Ujar Sasta lagi, terdengar suara dari depan pintu kamar. “Sastaaaa, Distaaaa, ayo sholat maghrib dulu” ternyata tante Risa ingin mengajak Sholat maghrib bersama-sama. “Iya maaa” jawab Sasta dan segera menarik tanganku. “Ayo Dis kita sholat bareng-bareng”. “Ayo” jawabku sambil berdiri. Aku akan selalu mendoakan Dio, selamat jalan Dio, semoga kamu bahagia disana.
SELESAI