Pray for me pleeeeeaaaase...
besok aku jadi instruktur senam SKSU. sebenernya aku gamau, tapi udah KEWAJIBAN anak kelas 11 jurusan busana buat jadi instruktur senam X_X sumpah, aku sama sekali ga hafal senamnyaaaa, aku takut kalo ketauan sama Bu 'T', dia itu guru olahraga perempuan yang kurasa paling KEJAM sedunia, gimana ga kejam coba. biasanya guru gamau mukul anak cewek karas keras, eeeh dia malah berani namparin anak cewe kaya gapunya perasaan, bahkan aku pernah dijewer sampe kupingku berdarah (gara-gara ga hafal senam sialan itu)
so, besok kalo aku ketauan ga hafal pasti bakalan digampar sama dia. Ya allaaaaah, aku cuma minta. tolong besok buat hujaaaan, biar gaada yang senam. tolong ya allah, mimi belum siap ditamparin sama orang, sedangkan ayah sama ibu aja gapernah nampar mimi. tolong ya allah :"
Kamis, 06 September 2012
Selasa, 04 September 2012
My Dearest Brother
Fajar telah terbit dari ufuk
timur, suara kokok ayam terdengar riuh, kubuka mataku untuk menatap mentari
pagi, “Shanaz, bangun nak, 1 jam lagi kita mau berangkat nih!” Bunda berteriak
keras di depan pintu kamarku, “Iya Bun, ini udah bangun kok!” Jawabku pada
Bunda. Aku bangkit dari tempat tidurku dan beranjak menuju kamar mandi.
*********
“Shake, elo lama amat sih, harusnya kita udah berangkat dari
15 menit yang lalu, KEONG!” Shandy kakak laki-lakiku yang bener bener rese itu
berteriak sangat keras, rasanya gendang telingaku hampir pecah, Habisnya setiap
hari dia itu kerjaannya cuma teriak sambil memanggilku dengan sebutan Shake (Shanaz Keong). “Iya, sabar napa
sih, elo juga belom selesai kan, lagian nama gue bukan KEONG!” aku membalas
teriakannya dengan pekikan yang sama besarnya sehingga Bunda muncul untuk
memarahi kami. “Kalian ini apa apaan sih? Telinga bunda bener bener gatel
ngedengerin kalian teriak terus, untung aja Ayah nggak denger, kalo Ayah denger
kalian teriak teriak gini, bisa-bisa kita nggak jadi pergi!” “Iya maaf ya
bun” ujarku dengan tampang merasa
bersalah. “Iya, yaudah cepetan sana naik ke mobil, tadi barang barang kalian
udah bunda masukin ke bagasi.” Aku, bunda dan Shandy beranjak menuju mobil,
bunda duduk disamping ayah, sedangkan aku dan Shandy duduk dibelakang mereka.
Oh iya daritadi aku belum bilang aku mau kemana, aku mau kerumah Nenek, nenek
tinggal di Palembang, makanya bawaan kami itu bener bener banyak. “Shandy,
Shanaz barang barang kalian udah nggak ada yang ketinggalan lagi kan?” Ayah
mengingatkan Shandy dan aku, wajar saja, soalnya dulu waktu kami juga mau
kerumah nenek, tas si Shandy ketinggalan terpaksa kami harus balik lagi
kerumah, padahal kami udah jauh banget dari rumah, kurang asem kan tuh anak.
“Ntar, Yah biar di check dulu” jawab Shandy sambil melongok ke bagasi mobil
“Oke, udah lengkap semua” jawabnya santai. “Yaudah kita berangkat sekarang,
jangan lupa baca bismillah ya” Ayah
mengingatkan lagi. Bismillahirrahmanirrahim
kuucapkan dalam hati, perasaan aman pun datang setelah aku mengucapkannya,
mobil mulai bergerak meninggalkan jalan di perumahan yang kami tempati, aku
membuka tas kecil yang sedari tadi dipangkuanku. Ku keluarkan Camera Digital
dari dalamnya, aku sibuk memotret pemandangan sedangkan Shandy sedang asyik
dengan laptop nya. Dan setelah 2 jam lamanya Shandy berkutat dengan ‘sang
laptop’ akhirnya ia bersuara juga “Huaaaah, sumpah gue bener bener ngantuk,
Shake ambilin bantal di belakang dong!” ujar Shandy seenaknya memerintahku,
hei! Setikdaknya dia menyebutkan kata TOLONG karena aku bukan pembantu
pribadinya. “Eh, denger ya Kak Shandy tersayang, adikmu ini bukan seorang
pembantu! Seenggaknya ada kata TOLONG yang keluar dari mulut kakak, maaf ya
kakak Shandy aku nggak mau ngambilin bantal kakak yang penuh iler itu tanpa ada
kata TOLONG dari kakak, mengerti!” balasku dengan kata sopan namun pedas,
“Baiklah adikku tercinta, pidatomu terlalu panjang, kalau begitu TOLONG
ambilkan bantal milik kakakmu yang baik hati dan tidak sombong ini” mungkin
kalian mengira mimik wajah Shandy saat berkata seperti itu adalah tersenyum,
tapi nggak sama sekali dia malah melotot sambil mencubit pipi ku sekuat tenaga.
“aaduuuuh, aduuuh ampun Shan, ampun iya iya gue ambilin” Aku mengusap pipiku
sambil meraih bantal yang berada di belakang
ku, dan melemparkannya tepat di wajah Shandy “makan tu bantal!!”. “Hehe
adikku yang cantik jangan marah dong” Shandy menjawab sambil mengedipkan
sebelah matanya, kalo aja dibelakangku ada bantal yang isinya bom pasti dia
udah kulempar daritadi, tapi karena nggak ada bantal yang isinya bom, jadi aku
memilih mencubiti lengannya, “adaww aaaaa, eh shake, aduuuh aduh, bundaaa”
Shandy anak manja! Baru juga 5 kali aku nyubitin lengannya tapi dia udah ngadu
sama bunda, ya jelas bunda segera bertindak laah. “Shanaz, jangan kasar sama
kakak mu, anak perempuan kok kasar kaya gitu, kamu mau jadi preman?!cepet minta
maaf sama kakakmu!” Yaaaah begitulah Bunda memang selalu ngebelain Shandy anak
kesayangannya. “Iya bun, maaf ya Shan!”
secepat kilat aku menjauh dari Shandy, yah aku memang begitu setelah
dimarahi Bunda karena ulah Shandy, pasti aku langsung menjauh darinya dan mulai
mendiaminya sampai keaadan hatiku membaik. Aku melirik Shandy, anak itu memang
kurang ajar, bukannya berusaha minta maaf, tapi dia malah sibuk sendiri dengan
HP nya, Aku benar-benar akan mendiaminya seharian!
HP ku bergetar tanda SMS masuk,secepat kilat aku membukanya. Ternyata SMS itu dari Shandy
HP ku bergetar tanda SMS masuk,secepat kilat aku membukanya. Ternyata SMS itu dari Shandy
Shanaz Keong, jangan
ngambek dong! iyadeh gue minta maaf, gara gara gue elo dimarahin Bunda.
Aku mengghapus SMS dari Shandy, kubuka baterai Hpku, dan
membiakannya tergeletak begitu saja disampingku. Shandy terbelalak melihatnya,
ada sedikit rasa puas dihatiku melihat Shandy terkejut sambil memandangi Hpku
yang terpisah dengan baterainya. Aku menutup wajahku dengan bantal yang kuambil
di belakang ku dan mencoba untuk tidur, setengah jam aku hanya diam sambil
terus mencoba tidur tapi sama saja, gara gara Shandy tadi kantukku hilang. Aku
melongok ke bagasi yang tepat berada di belakang bangku ku, dan mengambil tas
yang berisi cemilan, kulihat Bunda dan Shandy tertidur pulas, hanya ayah yang
terbangun dari tadi. “Yah, Ayah mau makan cemilan?” Aku menawari Ayah yang
sedari tadi hanya diam menatap jalanan tanpa ada seorang pun yang mengajaknya
bicara, “Loh, kamu udah bangun? Kok cepet banget?” Jawab Ayah padaku. “Iya,
Shanaz nggak ngantuk lagi, ayah mau nggak nih?” kataku menawarkan lagi. “Boleh
deh” Jawabnya singkat. Aku membuka bungkusan Oreo, dan memberikannya kepada
Ayah. “Nih yah, Ayah ini udah jam 3 sore loh, kita belum makan siang Shanaz
lapeeeer” Aku merengek manja kepada Ayah, yaa memang aku lebih sering bermanja
dengan Ayah. “Yaudah, ntar kalo ngeliat restoran atau rumah makan bilang sama
Ayah ya” Jawab Ayah tanpa melepas pandangannya dari jalanan. “oke bos J” kaca jendela kubuka,
untuk memandang jalanan, kepalaku pun sibuk bercelingak-celinguk, dan akhirnya
kutemukan sebuah rumah makan kecil di persimpangan jalan. “Yah, di depan sana
ada rumah makan tuh, disana aja yuk!” kataku sambil menunjukkan rumah makan itu
kepada ayah. “Oh yaudah, disana aja” Ayah memarkirkan mobil tepat di depan
rumah makan itu, ia membangunkan Bunda agar segera ikut makan siang, mereka pun
keluar dari mobil, ayah menyuruhku membangunkan Shandy, yaaaa mau tak mau aku
harus berbicara juga padanya, “Shaaaan gue mau turun, udah waktunya makan
siang, bangun wooooi” Aku melirik Shandy sejenak, ada yang aneh darinya, aku
menarik bantal yang menutupi wajahnya,dan setelah aku melihat wajah Shandy tanganku gemetar, kakiku terasa lemas, astaga
Shandy mengeluarkan darah dari mulutnya, aku berteriak sekeras mungkin
memanggil Ayah dan Bunda, tapi sama saja mereka tak bisa mendengarku, aku
segera turun dari mobil dan berlari kearah mereka, “Ayah Bundaaaaaa” tangisku
pecah sambil memeluk Bunda, “Shanaz, kamu kenapa?” Bunda pun kebingungan
meihatku menangis dan berteriak, semua orang juga melihatku heran. “Bunda,
Shandy buuun, Shandy ngeluarin darah dari mulutnya” Bunda segera melepaskan
pelukanku, ia berlari menuju mobil, aku dan ayah berlari dibelakangnya.
“Shandy, Shandy bangun nak! Shandy!! Ayah cepetan kita harus bawa dia kerumah
sakit!!” Bunda sangat histeris melihat mulut dan baju Shandy yang berlumuran
darah. Ayah segera menghidupkan mobil, Bunda berada dibelakang untuk menjaga
Shandy dan aku ada disamping Ayah. “Bundaaa, Shandy nggak bakalan meninggal
kan?” Aku bertanya pada Bunda yang masih saja menangisi Shandy, “Nggak, Shandy
pasti bisa bertahan” Bunda menjawab pertanyaanku sambil terisak. Ya Tuhan aku
memang sering bertengkar dengan Shandy, tapi aku nggak mau kehilangan kakakku
dia satu satunya saudaraku, tolong jangan ambil dia. Disepanjang jalan aku
berdoa sambil melihat Shandy , kami pun sampai dirumah sakit, wajah Shandy
semakin pucat, aku semakin ketakutan melihatnya, Shandy pun dibawa ke ruang
UGD, aku memeluk Ayah tangisku semakin pecah, Bunda berdiri di depan pintu UGD
yang tertutup sambil menangis, aku menghapus air mataku, “Ayah, sebenernya
Shandy sakit apa?” Aku bertanya pada Ayah, karna nggak mungkin tiba-tiba Shandy
kayak gitu, pasti dia punya penyakit yang nggak pernah aku tau. “2 tahun yang
lalu Shandy yang lagi latihan sepak bola tiba tiba muntah darah, waktu itu kamu
liburan ke Canada sama Tante Lily. Ayah sama Bunda bawa dia ke rumah sakit,
dokter memvonis kalo Shandy kena kanker hati, terpaksa kami harus kasi tau dia,
tapi dia bilang kami jangan ngasitau kamu, katanya kamu masih terlalu kecil.”
Pertanyaan yang sejak tadi berputr diotakku pun dijawab Ayah, aku tau kenapa
Bunda selalu ngebela Shandy kalo kami lagi berantem, aku tau kenapa Bunda
kelihatan lebih perhatian sama Shandy, aku udah tau semuanya, aku benar-benar
merasa bersalah kepada Bunda dan Shandy, aku selalu berpikir buruk tentang dia.
Dokter keluar dari ruangan dan segera menghampiri Bunda, kami berjalan
kearahnya, “Kondisinya Shandy sudah membaik, sekarang dia sudah sadar. Tapi dia
harus segera melakukan transplantasi hati, sebelum kankernya menjalar ke
seluruh tubuh.” Kata dokter itu sambil melepas kacamatanya. “Dok, tolong
lakukan yang terbaik untuk anak kami, berapapun biayanya akan kami bayar!” Kata
Bunda masih dengan isak tangisnya. “Mungkin kita bisa bicara di ruangan saya.”
Jawab dokter itu lagi. “Shanaz, kamu jagain Shandy ya, Ayah sama Bunda nanti
nyusul” kata Ayah yang hanya kujawab dengan anggukan, mereka pergi meninggalkan
ku, aku segera memasuki Ruangan tempat Shandy dirawat, Shandy tersenyum padaku,
begitu juga denganku. “Ha.. hai Shan, gimana keadaan lo?” Tanyaku sambil duduk
di bangku sebelah tempat tidurnya, Shandy tertawa jail melihat wajahku yang
pucat. “hahahaha biasa aja ngomongnya ya
Shake, gue belom mati!” kata Shandy sambil tertawa mengejekku. “Elo
emang nggak tau diuntung ya, gue lagi baik diledekin, gue jahat elo sok merasa
ditindas, kenapa gue punya kakak yang autis kaya elo ya!!” cerocosku kepada
Shandy. “Ayah sama Bunda mana?” tanya Shandy lagi. “Oh, lagi ke ruangan dokter,
udaaah tenang aja, gue nggak bakalan nyiksa elo kok, jangan parno gitu de Shan”
jawabku lagi, tak lama kemudian, Ayah dan Bunda masuk ke ruangan Shandy, wajah
mereka tampak lega melihat Shandy masih kuat untuk tertawa. “Besok Ayah, Bunda
sama Shandy mau ke Los Angeles, Shandy mau di operasi disana. Kamu nggak papa
kalo dititipin di rumah tante Lily kan sayang?” kata Bunda sambil membelai
kepalaku. “Nggak papa kok bun” jawabku pada Bunda.
*******************
Keesokan harinya, tante Lily sudah bersamaku di bandara
untuk mengantar Ayah, Bunda dan Shandy. “Ly, titip Shanaz dulu ya” Ujar Bunda
kepada tante Lily. “Iya mbak, pasti aku jagain kok!” balas tante Lily. “Oh iya
bun, kak Shandy mana?”. “Dia udah di anter ke pesawat 5 menit yang lalu,
ruangan khusus penumpang rumah sakit”
jawab bunda. “Yaudah kita
berangkat sekarang, ya. Naz, kamu baik baik disini ya.” Kata Ayah, “Iya yah,
pasti.” Jawabku meyakinkan ayah. Mereka
berjalan menjauhi kami, setelah mereka berangkat, aku dan tante Lily, pulang
kerumahnya. Mungkin aku akan tinggal disana selama 1 bulan ini, aku hanya
berdoa semoga saat pulang nanti Shandy sudah bisa mengejekku lagi, menjadi
keeper tim sepak bola kampusnya, tiap
hari mengantarku ke sekolah, Shandy, even tough everyday we usually fighting,
but you are my brother, my dearest brother, get well soon Shandy.
SEKIAN
Senin, 03 September 2012
Sabtu, 01 September 2012
Arkana Said
“Aku
pernah bilang ke kamu kan, kalo aku pengen 2 hal di dunia ini, yang pertama aku
pengen rekaman, yang kedua aku pengen bisa meluk seseorang yang paling aku
sayangi, dan sekarang boleh aku peluk kamu?”
sumpah aku nangis pas di bagian ini
Langganan:
Komentar (Atom)
