Selasa, 04 September 2012

My Dearest Brother


Fajar telah terbit dari ufuk timur, suara kokok ayam terdengar riuh, kubuka mataku untuk menatap mentari pagi, “Shanaz, bangun nak, 1 jam lagi kita mau berangkat nih!” Bunda berteriak keras di depan pintu kamarku, “Iya Bun, ini udah bangun kok!” Jawabku pada Bunda. Aku bangkit dari tempat tidurku dan beranjak menuju kamar mandi.
                                                                                *********
“Shake, elo lama amat sih, harusnya kita udah berangkat dari 15 menit yang lalu, KEONG!” Shandy kakak laki-lakiku yang bener bener rese itu berteriak sangat keras, rasanya gendang telingaku hampir pecah, Habisnya setiap hari dia itu kerjaannya cuma teriak sambil memanggilku dengan sebutan Shake (Shanaz Keong). “Iya, sabar napa sih, elo juga belom selesai kan, lagian nama gue bukan KEONG!” aku membalas teriakannya dengan pekikan yang sama besarnya sehingga Bunda muncul untuk memarahi kami. “Kalian ini apa apaan sih? Telinga bunda bener bener gatel ngedengerin kalian teriak terus, untung aja Ayah nggak denger, kalo Ayah denger kalian teriak teriak gini, bisa-bisa kita nggak jadi pergi!” “Iya maaf ya bun”  ujarku dengan tampang merasa bersalah. “Iya, yaudah cepetan sana naik ke mobil, tadi barang barang kalian udah bunda masukin ke bagasi.” Aku, bunda dan Shandy beranjak menuju mobil, bunda duduk disamping ayah, sedangkan aku dan Shandy duduk dibelakang mereka. Oh iya daritadi aku belum bilang aku mau kemana, aku mau kerumah Nenek, nenek tinggal di Palembang, makanya bawaan kami itu bener bener banyak. “Shandy, Shanaz barang barang kalian udah nggak ada yang ketinggalan lagi kan?” Ayah mengingatkan Shandy dan aku, wajar saja, soalnya dulu waktu kami juga mau kerumah nenek, tas si Shandy ketinggalan terpaksa kami harus balik lagi kerumah, padahal kami udah jauh banget dari rumah, kurang asem kan tuh anak. “Ntar, Yah biar di check dulu” jawab Shandy sambil melongok ke bagasi mobil “Oke, udah lengkap semua” jawabnya santai. “Yaudah kita berangkat sekarang, jangan lupa baca bismillah ya” Ayah mengingatkan lagi. Bismillahirrahmanirrahim kuucapkan dalam hati, perasaan aman pun datang setelah aku mengucapkannya, mobil mulai bergerak meninggalkan jalan di perumahan yang kami tempati, aku membuka tas kecil yang sedari tadi dipangkuanku. Ku keluarkan Camera Digital dari dalamnya, aku sibuk memotret pemandangan sedangkan Shandy sedang asyik dengan laptop nya. Dan setelah 2 jam lamanya Shandy berkutat dengan ‘sang laptop’ akhirnya ia bersuara juga “Huaaaah, sumpah gue bener bener ngantuk, Shake ambilin bantal di belakang dong!” ujar Shandy seenaknya memerintahku, hei! Setikdaknya dia menyebutkan kata TOLONG karena aku bukan pembantu pribadinya. “Eh, denger ya Kak Shandy tersayang, adikmu ini bukan seorang pembantu! Seenggaknya ada kata TOLONG yang keluar dari mulut kakak, maaf ya kakak Shandy aku nggak mau ngambilin bantal kakak yang penuh iler itu tanpa ada kata TOLONG dari kakak, mengerti!” balasku dengan kata sopan namun pedas, “Baiklah adikku tercinta, pidatomu terlalu panjang, kalau begitu TOLONG ambilkan bantal milik kakakmu yang baik hati dan tidak sombong ini” mungkin kalian mengira mimik wajah Shandy saat berkata seperti itu adalah tersenyum, tapi nggak sama sekali dia malah melotot sambil mencubit pipi ku sekuat tenaga. “aaduuuuh, aduuuh ampun Shan, ampun iya iya gue ambilin” Aku mengusap pipiku sambil meraih bantal yang berada di belakang  ku, dan melemparkannya tepat di wajah Shandy “makan tu bantal!!”. “Hehe adikku yang cantik jangan marah dong” Shandy menjawab sambil mengedipkan sebelah matanya, kalo aja dibelakangku ada bantal yang isinya bom pasti dia udah kulempar daritadi, tapi karena nggak ada bantal yang isinya bom, jadi aku memilih mencubiti lengannya, “adaww aaaaa, eh shake, aduuuh aduh, bundaaa” Shandy anak manja! Baru juga 5 kali aku nyubitin lengannya tapi dia udah ngadu sama bunda, ya jelas bunda segera bertindak laah. “Shanaz, jangan kasar sama kakak mu, anak perempuan kok kasar kaya gitu, kamu mau jadi preman?!cepet minta maaf sama kakakmu!” Yaaaah begitulah Bunda memang selalu ngebelain Shandy anak kesayangannya. “Iya bun, maaf ya Shan!”  secepat kilat aku menjauh dari Shandy, yah aku memang begitu setelah dimarahi Bunda karena ulah Shandy, pasti aku langsung menjauh darinya dan mulai mendiaminya sampai keaadan hatiku membaik. Aku melirik Shandy, anak itu memang kurang ajar, bukannya berusaha minta maaf, tapi dia malah sibuk sendiri dengan HP nya, Aku benar-benar akan mendiaminya seharian!
HP ku bergetar tanda SMS masuk,secepat kilat aku membukanya. Ternyata SMS itu dari Shandy
Shanaz Keong, jangan ngambek dong! iyadeh gue minta maaf, gara gara gue elo dimarahin Bunda.
Aku mengghapus SMS dari Shandy, kubuka baterai Hpku, dan membiakannya tergeletak begitu saja disampingku. Shandy terbelalak melihatnya, ada sedikit rasa puas dihatiku melihat Shandy terkejut sambil memandangi Hpku yang terpisah dengan baterainya. Aku menutup wajahku dengan bantal yang kuambil di belakang ku dan mencoba untuk tidur, setengah jam aku hanya diam sambil terus mencoba tidur tapi sama saja, gara gara Shandy tadi kantukku hilang. Aku melongok ke bagasi yang tepat berada di belakang bangku ku, dan mengambil tas yang berisi cemilan, kulihat Bunda dan Shandy tertidur pulas, hanya ayah yang terbangun dari tadi. “Yah, Ayah mau makan cemilan?” Aku menawari Ayah yang sedari tadi hanya diam menatap jalanan tanpa ada seorang pun yang mengajaknya bicara, “Loh, kamu udah bangun? Kok cepet banget?” Jawab Ayah padaku. “Iya, Shanaz nggak ngantuk lagi, ayah mau nggak nih?” kataku menawarkan lagi. “Boleh deh” Jawabnya singkat. Aku membuka bungkusan Oreo, dan memberikannya kepada Ayah. “Nih yah, Ayah ini udah jam 3 sore loh, kita belum makan siang Shanaz lapeeeer” Aku merengek manja kepada Ayah, yaa memang aku lebih sering bermanja dengan Ayah. “Yaudah, ntar kalo ngeliat restoran atau rumah makan bilang sama Ayah ya” Jawab Ayah tanpa melepas pandangannya dari jalanan. “oke bos J” kaca jendela kubuka, untuk memandang jalanan, kepalaku pun sibuk bercelingak-celinguk, dan akhirnya kutemukan sebuah rumah makan kecil di persimpangan jalan. “Yah, di depan sana ada rumah makan tuh, disana aja yuk!” kataku sambil menunjukkan rumah makan itu kepada ayah. “Oh yaudah, disana aja” Ayah memarkirkan mobil tepat di depan rumah makan itu, ia membangunkan Bunda agar segera ikut makan siang, mereka pun keluar dari mobil, ayah menyuruhku membangunkan Shandy, yaaaa mau tak mau aku harus berbicara juga padanya, “Shaaaan gue mau turun, udah waktunya makan siang, bangun wooooi” Aku melirik Shandy sejenak, ada yang aneh darinya, aku menarik bantal yang menutupi wajahnya,dan setelah aku melihat wajah Shandy  tanganku gemetar, kakiku terasa lemas, astaga Shandy mengeluarkan darah dari mulutnya, aku berteriak sekeras mungkin memanggil Ayah dan Bunda, tapi sama saja mereka tak bisa mendengarku, aku segera turun dari mobil dan berlari kearah mereka, “Ayah Bundaaaaaa” tangisku pecah sambil memeluk Bunda, “Shanaz, kamu kenapa?” Bunda pun kebingungan meihatku menangis dan berteriak, semua orang juga melihatku heran. “Bunda, Shandy buuun, Shandy ngeluarin darah dari mulutnya” Bunda segera melepaskan pelukanku, ia berlari menuju mobil, aku dan ayah berlari dibelakangnya. “Shandy, Shandy bangun nak! Shandy!! Ayah cepetan kita harus bawa dia kerumah sakit!!” Bunda sangat histeris melihat mulut dan baju Shandy yang berlumuran darah. Ayah segera menghidupkan mobil, Bunda berada dibelakang untuk menjaga Shandy dan aku ada disamping Ayah. “Bundaaa, Shandy nggak bakalan meninggal kan?” Aku bertanya pada Bunda yang masih saja menangisi Shandy, “Nggak, Shandy pasti bisa bertahan” Bunda menjawab pertanyaanku sambil terisak. Ya Tuhan aku memang sering bertengkar dengan Shandy, tapi aku nggak mau kehilangan kakakku dia satu satunya saudaraku, tolong jangan ambil dia. Disepanjang jalan aku berdoa sambil melihat Shandy , kami pun sampai dirumah sakit, wajah Shandy semakin pucat, aku semakin ketakutan melihatnya, Shandy pun dibawa ke ruang UGD, aku memeluk Ayah tangisku semakin pecah, Bunda berdiri di depan pintu UGD yang tertutup sambil menangis, aku menghapus air mataku, “Ayah, sebenernya Shandy sakit apa?” Aku bertanya pada Ayah, karna nggak mungkin tiba-tiba Shandy kayak gitu, pasti dia punya penyakit yang nggak pernah aku tau. “2 tahun yang lalu Shandy yang lagi latihan sepak bola tiba tiba muntah darah, waktu itu kamu liburan ke Canada sama Tante Lily. Ayah sama Bunda bawa dia ke rumah sakit, dokter memvonis kalo Shandy kena kanker hati, terpaksa kami harus kasi tau dia, tapi dia bilang kami jangan ngasitau kamu, katanya kamu masih terlalu kecil.” Pertanyaan yang sejak tadi berputr diotakku pun dijawab Ayah, aku tau kenapa Bunda selalu ngebela Shandy kalo kami lagi berantem, aku tau kenapa Bunda kelihatan lebih perhatian sama Shandy, aku udah tau semuanya, aku benar-benar merasa bersalah kepada Bunda dan Shandy, aku selalu berpikir buruk tentang dia. Dokter keluar dari ruangan dan segera menghampiri Bunda, kami berjalan kearahnya, “Kondisinya Shandy sudah membaik, sekarang dia sudah sadar. Tapi dia harus segera melakukan transplantasi hati, sebelum kankernya menjalar ke seluruh tubuh.” Kata dokter itu sambil melepas kacamatanya. “Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami, berapapun biayanya akan kami bayar!” Kata Bunda masih dengan isak tangisnya. “Mungkin kita bisa bicara di ruangan saya.” Jawab dokter itu lagi. “Shanaz, kamu jagain Shandy ya, Ayah sama Bunda nanti nyusul” kata Ayah yang hanya kujawab dengan anggukan, mereka pergi meninggalkan ku, aku segera memasuki Ruangan tempat Shandy dirawat, Shandy tersenyum padaku, begitu juga denganku. “Ha.. hai Shan, gimana keadaan lo?” Tanyaku sambil duduk di bangku sebelah tempat tidurnya, Shandy tertawa jail melihat wajahku yang pucat. “hahahaha biasa aja ngomongnya ya  Shake, gue belom mati!” kata Shandy sambil tertawa mengejekku. “Elo emang nggak tau diuntung ya, gue lagi baik diledekin, gue jahat elo sok merasa ditindas, kenapa gue punya kakak yang autis kaya elo ya!!” cerocosku kepada Shandy. “Ayah sama Bunda mana?” tanya Shandy lagi. “Oh, lagi ke ruangan dokter, udaaah tenang aja, gue nggak bakalan nyiksa elo kok, jangan parno gitu de Shan” jawabku lagi, tak lama kemudian, Ayah dan Bunda masuk ke ruangan Shandy, wajah mereka tampak lega melihat Shandy masih kuat untuk tertawa. “Besok Ayah, Bunda sama Shandy mau ke Los Angeles, Shandy mau di operasi disana. Kamu nggak papa kalo dititipin di rumah tante Lily kan sayang?” kata Bunda sambil membelai kepalaku. “Nggak papa kok bun” jawabku pada Bunda.
                                                                *******************
Keesokan harinya, tante Lily sudah bersamaku di bandara untuk mengantar Ayah, Bunda dan Shandy. “Ly, titip Shanaz dulu ya” Ujar Bunda kepada tante Lily. “Iya mbak, pasti aku jagain kok!” balas tante Lily. “Oh iya bun, kak Shandy mana?”. “Dia udah di anter ke pesawat 5 menit yang lalu, ruangan khusus penumpang rumah sakit”  jawab bunda.  “Yaudah kita berangkat sekarang, ya. Naz, kamu baik baik disini ya.” Kata Ayah, “Iya yah, pasti.” Jawabku meyakinkan ayah.  Mereka berjalan menjauhi kami, setelah mereka berangkat, aku dan tante Lily, pulang kerumahnya. Mungkin aku akan tinggal disana selama 1 bulan ini, aku hanya berdoa semoga saat pulang nanti Shandy sudah bisa mengejekku lagi, menjadi keeper  tim sepak bola kampusnya, tiap hari mengantarku ke sekolah, Shandy, even tough everyday we usually fighting, but you are my brother, my dearest brother, get well soon Shandy.

                                                                                                SEKIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar